Tentang hujan yang jatuh semalam, Ada genangan yang diam-diam meredam senang Tidak mengalir, tidak pula menembus tanah Hanya diam diantara hati yang redam Kau tahu arti pulang yang sebenarnya? Pernah merasa ketika tubuhmu sudah benar-benar pulang, tapi hatimu tidak? Ya, hatimu tidak ikut pulang bersamamu. Aku sering menemukan “rumah” bagi hatiku. Merasa nyaman, lalu dengan tergesa-gesa menempel stiker “ini rumah baruku” . Lalu setelah beberapa tahun, bulan, bahkan minggu, dengan tak percaya aku melepas stiker yang lusuh dan usang itu. Hingga akhirnya hanya menemukan-menempel-mencopot-menemukan lagi. Berulang-ulang. Sering. Jujur, tak sering aku merasa sedang “pulang” jika berada di rumah. Eh, tunggu. Apa sebenarnya “pulang” yang aku maksud? “pulang” bagiku lebih dari sekedar mengetruk pintu, masuk ke dalam rumah lalu bebas berselimut seenaknya. Lebih dari itu. “Pulang” bagiku dimana aku merasa tidak butuh orang lain lagi selain dia. Ya, dia; orang yang pertama aku cari...