Langsung ke konten utama

Pulang

Tentang hujan yang jatuh semalam,
Ada genangan yang diam-diam meredam senang
Tidak mengalir, tidak pula menembus tanah
Hanya diam diantara hati yang redam

Kau tahu arti pulang yang sebenarnya? Pernah merasa ketika tubuhmu sudah benar-benar pulang, tapi hatimu tidak? Ya, hatimu tidak ikut pulang bersamamu.
Aku sering menemukan “rumah” bagi hatiku. Merasa nyaman, lalu dengan tergesa-gesa menempel stiker “ini rumah baruku”. Lalu setelah beberapa tahun, bulan, bahkan minggu, dengan tak percaya aku melepas stiker yang lusuh dan usang itu. Hingga akhirnya hanya menemukan-menempel-mencopot-menemukan lagi. Berulang-ulang. Sering.

Jujur, tak sering aku merasa sedang “pulang” jika berada di rumah. Eh, tunggu. Apa sebenarnya “pulang” yang aku maksud? “pulang” bagiku lebih dari sekedar mengetruk pintu, masuk ke dalam rumah lalu bebas berselimut seenaknya. Lebih dari itu. “Pulang” bagiku dimana aku merasa tidak butuh orang lain lagi selain dia. Ya, dia; orang yang pertama aku cari saat apapun terjadi, orang yang percaya padaku saat aku melakukan kesalahan, orang yang percaya bahwa aku bisa menjadi apapun yang aku mau. Oke, jadi, ya, memang benar tak jarang aku mencari “rumah” yang lain untuk aku singgahi dan dijadikan tempat “pulang”.

Kadang aku selalu merasa terlalu egois dengan semua yang aku pikirkan. Mencari “rumah” yang lebih nyaman untuk tempatku “pulang”, sedang rumahku yang sebenarnya aku biarkan usang. Kadang saat aku sedang berada di rumah yang sebenarnya, aku merasa asing di keluargaku sendiri. Banyak sarang laba-laba menempel disana-sini, banyak anjing-anjing sok baik di pekarangan rumah, banyak nanah, banyak darah. Tapi karena ketidaknyamanan yang semula kecil tapi karena bertahun-tahun dibiarkan lalu akhirnya membekas, dan aku memilih meninggalkannya, tidak membersihkannya.


Dan tentang hujan yang jatuh semalam
Ada genangan yang diam-diam meredam senang
Tidak mengalir, tidak pula menembus tanah
Hanya diam diantara hati yang redam


Ya, tentang hujan semalam. Ada sesuatu yang menguliti hatiku. Ada kalimat yang mengusik tidurku selama beberapa malam. Di pertengkaran malam itu, tiba-tiba saja beliau menangis dan ada jeritan di tengah isaknya, “Harus kemana lagi pulang?” JLEB!!!
Rasanya ada sesuatu yang meledak dalam hatiku, pecah sebagai air mata yang diam-diam meredam senang. Aku tahu, pulang yang dia maksudkan tidak sesederhana mengetuk pintu, masuk ke dalam rumah, lalu berendam air hangat selama apapun yang dia mau. Lebih dari itu.

Dia merindukan rumah untuk hatinya pulang.

Aku merasa kacau, terlalu sering meracau. Satu yang aku pahami dari keadaan ini, bahwa sebenarnya kita sama-sama merindukan “rumah” kita. Iya, kita; aku dan keluarga kecilku. Aku tahu kita sebenarnya saling menyayangi, saling peduli tapi kita terlalu gengsi untuk memulai, memulai membersihkan halaman beranda hingga kita merasa tersesat di dalam rumah sendiri.
Kita sama-sama ingin saling melindungi, tapi kita selalu lupa caranya saling menyayangi.
Nyatanya kita sama-sama rapuh.


Untuk hujan yang jatuh semalam,
Terimakasih telah banyak mengajarkan.
Dan untuk pertengkaran yang tak kunjung usai,
Semoga selalu ada waktu untuk kami saling belajar, saling memberi, saling mengasihi dan saling menyadari bahwa hati selalu tahu kemana dia harus kembali. 


Sukabumi, 7 September 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permintaan Maaf di Masa Depan

Nak.     Jika belasan tahun atau bahkan puluhan tahun lagi kamu membaca ini, dan kamu sedang marah dan benci padaku, ibumu.            Nak, setiap malam sebelum tidur kamu selalu menatap langit-langit kamar cukup lama, dalam termenungmu kadang kita menceritakan banyak hal. Biasanya bibu akan menanyakan lagi apa saja yang kamu makan, kemana kamu pergi, bermain apa dan dengan siapa. Lalu kamu pun akan menceritakan berulang-ulang hal yang sebenarnya sudah bibu tahu jawabannya karena 24/7 kamu selalu berada di dekat bibu.      Setiap selesai kamu bercerita bibu selalu meminta maaf kepadamu, atas perlakuanku padamu pada hari itu yang kadang di luar kendaliku, maka malam sebelum tidur adalah waktu yang bibu rasa tepat untuk meminta maaf kepadamu. Salah ataupun tidak salah yang bibu lakukan, setiap malam bibu akan selalu meminta maaf kepadamu. Bukan karena bibu ingin merendahkan diri di depan kamu dengan selalu minta maaf, tapi h...

Habil Ngompol!

Kemarin, dua hari berturut-turut Habil terus-terusan ngompol. Bangun tidur, siang, sore terus aja nahan pipis sampe ngompol. Memang bukan tipe ngompol yang jibrug sampe berceceran di lantai, cuman ada beberapa tetes di celana dalam, tapi tetep aja itu bikin jijik, bikin kesel.  Dua hari berturut-turut juga akhirnya Bibu cuci selimut, sprei, jemur kasur, ngepel dan cuci-cuci yang lain sendirian, sampe Bibu ngomel terus peringatin Habil biar gak ngompol. Beberapa menit sekali, ngajak Habil pipis ke kamar mandi, padahal Habil lagi gak mau pipis. Terus-terusan bilang, Habil jangan ngompol lagi ya nanti malam, awas kalau ngompol. Sampe malem harinya, Habil gak bisa tidur, Bibu juga deg-degan takut banget Habil ngompol. Ditanya kenapa Habil gak tidur, dijawab gak apa-apa tapi Habil terus-terusan minta dianter ke kamar mandi buat pipis, sampe di kamar mandi ternyata gak pipis. Begitu terus sampe beberapa kali. Akhirnya Bibu sadar, Habil juga mungkin takut, Habil takut ngompol lagi karena ...

Entah Kali ke Berapa

Lalu bagaimana, jika aku merasa tak mengenali diriku sendiri setelah mengalami perubahan yang selama ini aku ingini?! Lalu bagaimana, setelah aku menginginkan perubahan namun justru aku merindukan diriku yang dulu?! Lalu bagaimana, setelah meng-amini doa-doa yang pernah terpanjat aku justru menyesalinya?! Lalu, bagaimana?!