Kepada kamu, aku hanya ingin sekedar berterima kasih atas kebersamaan kita yang akhirnya tidak pernah terjadi. Aku hanya ingin sekedar bersyukur tak memilikimu lebih lama lagi.
Terimakasih atas janji pernikahan yang dari tahun lalu sudah kita rencanakan, meskipun akhirnya janji hanya menjadi janji, tidak lebih.
Kepada kamu yang dulu sempat mesra dengan perhatian-perhatian kecil setiap pagi, terimakasih atas cincin yang hampir melingkar di jari manis, terimakasih telah mengizinkan aku untuk tidak menahan malu lebih dari ini.
Kita pernah salah, dan sama-sama lelah bertahan. Pergilah, jika kau takut belajar lebih memahamiku lagi. Aku pun akan belajar lebih tegar menghadapi semua rasa sakit yang kau ungkit. Terimakasih atas kekecewaan-kekecewaan kecil yang sering.
Aku paham jika kau lebih memilih melupakan dibanding harus memulai semua dari awal. Aku sangat mengerti. Sayang keluargaku tidak. Sayangnya, aku pun tak ingin berjuang lebih jika sendiri.
Pergilah, meski perpisahan ini menyisakan rasa kecewa yang teramat sangat. Meski sakit dan malu harus aku dan keluargaku tanggung sepeninggalmu.
Jika waktu mempertemukan kita lagi, pergi lagi lah! Agar kesalahan itu tidak terulang kembali. Agar luka ini cepat mengering dan kita bisa berjalan lebih tegap, berpikir lebih cepat, berbicara jika siap dan memulai langkah baru tanpa ragu lagi.
Kepada kamu, maaf harapan-harapanmu untukku terlalu tinggi. Aku merasa terlalu kerdil untuk dapat mencapai puncak dengan kaki dan tangan sependek ini.
Maaf untuk semua khilaf.
Terimakasih, kita berakhir di titik ini.
Terimakasih atas janji pernikahan yang dari tahun lalu sudah kita rencanakan, meskipun akhirnya janji hanya menjadi janji, tidak lebih.
Kepada kamu yang dulu sempat mesra dengan perhatian-perhatian kecil setiap pagi, terimakasih atas cincin yang hampir melingkar di jari manis, terimakasih telah mengizinkan aku untuk tidak menahan malu lebih dari ini.
Kita pernah salah, dan sama-sama lelah bertahan. Pergilah, jika kau takut belajar lebih memahamiku lagi. Aku pun akan belajar lebih tegar menghadapi semua rasa sakit yang kau ungkit. Terimakasih atas kekecewaan-kekecewaan kecil yang sering.
Aku paham jika kau lebih memilih melupakan dibanding harus memulai semua dari awal. Aku sangat mengerti. Sayang keluargaku tidak. Sayangnya, aku pun tak ingin berjuang lebih jika sendiri.
Pergilah, meski perpisahan ini menyisakan rasa kecewa yang teramat sangat. Meski sakit dan malu harus aku dan keluargaku tanggung sepeninggalmu.
Jika waktu mempertemukan kita lagi, pergi lagi lah! Agar kesalahan itu tidak terulang kembali. Agar luka ini cepat mengering dan kita bisa berjalan lebih tegap, berpikir lebih cepat, berbicara jika siap dan memulai langkah baru tanpa ragu lagi.
Kepada kamu, maaf harapan-harapanmu untukku terlalu tinggi. Aku merasa terlalu kerdil untuk dapat mencapai puncak dengan kaki dan tangan sependek ini.
Maaf untuk semua khilaf.
Terimakasih, kita berakhir di titik ini.
Komentar
Posting Komentar