Langsung ke konten utama

Kepada kamu.

Kepada kamu, aku hanya ingin sekedar berterima kasih atas kebersamaan kita yang akhirnya tidak pernah terjadi. Aku hanya ingin sekedar bersyukur tak memilikimu lebih lama lagi.

Terimakasih atas janji pernikahan yang dari tahun lalu sudah kita rencanakan, meskipun akhirnya janji hanya menjadi janji, tidak lebih.
Kepada kamu yang dulu sempat mesra dengan perhatian-perhatian kecil setiap pagi, terimakasih atas cincin yang hampir melingkar di jari manis, terimakasih telah mengizinkan aku untuk tidak menahan malu lebih dari ini.

Kita pernah salah, dan sama-sama lelah bertahan. Pergilah, jika kau takut belajar lebih memahamiku lagi. Aku pun akan belajar lebih tegar menghadapi semua rasa sakit yang kau ungkit. Terimakasih atas kekecewaan-kekecewaan kecil yang sering.

Aku paham jika kau lebih memilih melupakan dibanding harus memulai semua dari awal. Aku sangat mengerti. Sayang keluargaku tidak. Sayangnya, aku pun tak ingin berjuang lebih jika sendiri.

Pergilah, meski perpisahan ini menyisakan rasa kecewa yang teramat sangat. Meski sakit dan malu harus aku dan keluargaku tanggung sepeninggalmu.

Jika waktu mempertemukan kita lagi, pergi lagi lah! Agar kesalahan itu tidak terulang kembali. Agar luka ini cepat mengering dan kita bisa berjalan lebih tegap, berpikir lebih cepat, berbicara jika siap dan memulai langkah baru tanpa ragu lagi.

Kepada kamu, maaf harapan-harapanmu untukku terlalu tinggi. Aku merasa terlalu kerdil untuk dapat mencapai puncak dengan kaki dan tangan sependek ini.
Maaf untuk semua khilaf.
Terimakasih, kita berakhir di titik ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permintaan Maaf di Masa Depan

Nak.     Jika belasan tahun atau bahkan puluhan tahun lagi kamu membaca ini, dan kamu sedang marah dan benci padaku, ibumu.            Nak, setiap malam sebelum tidur kamu selalu menatap langit-langit kamar cukup lama, dalam termenungmu kadang kita menceritakan banyak hal. Biasanya bibu akan menanyakan lagi apa saja yang kamu makan, kemana kamu pergi, bermain apa dan dengan siapa. Lalu kamu pun akan menceritakan berulang-ulang hal yang sebenarnya sudah bibu tahu jawabannya karena 24/7 kamu selalu berada di dekat bibu.      Setiap selesai kamu bercerita bibu selalu meminta maaf kepadamu, atas perlakuanku padamu pada hari itu yang kadang di luar kendaliku, maka malam sebelum tidur adalah waktu yang bibu rasa tepat untuk meminta maaf kepadamu. Salah ataupun tidak salah yang bibu lakukan, setiap malam bibu akan selalu meminta maaf kepadamu. Bukan karena bibu ingin merendahkan diri di depan kamu dengan selalu minta maaf, tapi h...

Habil Ngompol!

Kemarin, dua hari berturut-turut Habil terus-terusan ngompol. Bangun tidur, siang, sore terus aja nahan pipis sampe ngompol. Memang bukan tipe ngompol yang jibrug sampe berceceran di lantai, cuman ada beberapa tetes di celana dalam, tapi tetep aja itu bikin jijik, bikin kesel.  Dua hari berturut-turut juga akhirnya Bibu cuci selimut, sprei, jemur kasur, ngepel dan cuci-cuci yang lain sendirian, sampe Bibu ngomel terus peringatin Habil biar gak ngompol. Beberapa menit sekali, ngajak Habil pipis ke kamar mandi, padahal Habil lagi gak mau pipis. Terus-terusan bilang, Habil jangan ngompol lagi ya nanti malam, awas kalau ngompol. Sampe malem harinya, Habil gak bisa tidur, Bibu juga deg-degan takut banget Habil ngompol. Ditanya kenapa Habil gak tidur, dijawab gak apa-apa tapi Habil terus-terusan minta dianter ke kamar mandi buat pipis, sampe di kamar mandi ternyata gak pipis. Begitu terus sampe beberapa kali. Akhirnya Bibu sadar, Habil juga mungkin takut, Habil takut ngompol lagi karena ...

Entah Kali ke Berapa

Lalu bagaimana, jika aku merasa tak mengenali diriku sendiri setelah mengalami perubahan yang selama ini aku ingini?! Lalu bagaimana, setelah aku menginginkan perubahan namun justru aku merindukan diriku yang dulu?! Lalu bagaimana, setelah meng-amini doa-doa yang pernah terpanjat aku justru menyesalinya?! Lalu, bagaimana?!