Jadi beberapa hari yang lalu aku bertemu lagi dengan seorang teman dekat yang baru saja beberapa minggu lalu resign. Sepenilaianku sih, dia seorang workaholic, lincah, cekatan, cerdas dan gak tau malu.
Di pekerjaan, dia selalu menjadi "tumbal" anak-anak dalam hal apapun. Kalau ada masalah dan kita harus lapor atasan, kita gak pernah ribut nuduh-nuduh harus siapa yang bilang karena dipaksa atau tidak pasti harus dia yang pasang badan duluan. Pokoknya dia sangat bisa diandelin dalam urusan gak enak. Wk. Dia baik tapi, jago ngomong juga, humble dan skill dia di kerjaan emang bagus sih dibanding aku dan yang lain.
Ah sudah, kucukupkan saja sesi memuji dia, karena dia orangnya kepo parah, dan aku tau suatu saat dia akan membaca ini. :p
Terlepas dari bermanfaatnya dia di lingkungan sosial dan pekerjaan. Aku mau jadikan alasan dia resign sebagai reminder for my self, iya dia resign bukan untuk dia tapi untuk palestine. Loh kenapa? Hubungannya apa?
Jadi dia bekerja di salah satu perusahaan besar, dengan gaji yang besar, insentif yang besar, atasan yang baik hati serta partner kerja yang nyaman. Itu alasan yang lebih dari cukup untuk kita bisa survive di kerjaan tersebut. Tapi sayangnya, si perusahaan ini tuh tercatat sebagai penyumbang untuk Israel dan juga memiliki tempat penelitian di Israel. Mungkin kita sudah cukup ngeri setiap kali mendengar perang antara Israel dan Palestine.
Semua orang menertawakan. Mereka bingung, ngerasa aneh tapi lucu tapi greget denger alasan orang tersebut. Maksudnya, ya itu kan urusan perusahaan dia mau duitnya di sumbangin ke Israel kek, ya terserah perusahaan lu. Yang penting kan lu kerja halal, yaudah. Lu gak bakalan kerja-kerja kalau pikiran lu kayak gitu. Begitulah kira-kira yang selalu aku dengar setiap kali si temenku tadi menjabarkan alasannya.
Dia bergeming. Gak peduli orang-orang menahannya, gak peduli orang-orang menertawakannya. Yang dia yakini, kalau dia tetap bekerja disitu dengan penjualan yang memang bagus -karena skill jualannya dia juga bagus-, berarti sama aja dengan dia ikut membantu perusahaannya untuk menyumbang lebih besar ke Israel. Dan sepenglihatanku juga sih, dibalik sikap dasarnya dia yang bagus saat bekerja, tapi dia selalu males-malesan buat promosiin produknya. Bahkan setiap kali ada customer mendekat ke produk dia, dia pasti ngumpet. Bodoh emang. Tiap ditanya dia selalu jawab, "Jangan tanya gw, plis. Gw gak mau produk gw laku dan memperkaya Israel. Gw selalu serba salah.".
Aku belajar banyak dari sini. Dari seorang anak ceroboh yang keponya tanpa batas, yang selalu pelupa. Seorang kakak dengan banyak adik, seorang anak muda yang ingin sekali kuliah. Ya, aku tahu diap pasti butuh pekerjaan agar semuanya bisa berjalan lancar. Tapi yang dia lakukan, dia melepas pekerjaannya karena sesuatu yang sebenarnya nggak ngaruh sama hidup dia.
Bahagia tidak melulu soal uang.
Ragamu harus hidup, tapi hatimu jangan dibiarkan mati.
Oh iya, sebelum dia resign. Orang-orang merekomendasikan aku sebagai pengganti dia, karena memang aku lebih dulu jadi job seeker dan udah lelah ngelamar-lamar tapi belum ketemu jodohnya wkwk. Dan dia bilang, "Enggak! Gue sayang sama Dian, dan gw gak mau dia makan uang haram dan gw juga gak mau dia dosa karena ikut nyumbang buat Israel".
Well, I miss u too..
Komentar
Posting Komentar