Langsung ke konten utama

REVIEW BUKU: The Sign





Judul: The Sign
Penulis: Hana Aina
Penerbit: Cerita Kata
Tebal Buku: 216 Halaman
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, November 2022
ISBN: 978-623-7977-43-8


The sign. Ini adalah buku sci-fi pertama yang aku baca sampai tuntas. Sebenarnya beberapa buku dari genre yang sama sudah sering aku baca, tapi karena buku dengan genre Sci-fi itu biasanya menggunakan nama-nama dan istilah-istilah yang sulit diingat, jadi buat aku yang memiliki kemampuan mengingat yang pendek genre sci-fi dirasa kurang cocok untukku. baru baca beberapa halaman tiba-tiba lupa nama tempat dan orangnya, baca lagi dari awal gitu aja terus sampai malesnya.


Kembali ke The Sign. Pertama aku melihat covernya aku sudah jatuh cinta duluan sih. sesuai dengan cerita bukunya, covernya cantik dan simple tapi merangkum keseluruhan cerita. hanya gambar awan dan sebuah planet, tetapi dengan awan yang berwarna jingga kemerahan juga sebuah planet yang berwarna kuning dengan background langit yang gelap, itu seperti menceritakan keadaan planet gil yang memang sedang banyak peperangan dan pertempuran dari gabungan warna-warna di covernya, sangat pas. Aura peperangan yang identik dengan ketakutan kesedihan, udah kerasa waktu lihat covernya. Pokoknya pengen sungkem sama yang buat covernya. 👏👏
Gambar ini adalah satu dari beberapa gambar lain yang pernah penulisnya minta untuk divote sebelum buku ini launching. Dan aku lega banget karena sedari awal aku memang udah vote gambar ini buat jadi covernya, dan hasilnya setelah terbit bener bener bagus sih. Covernya juga mengingatkanku pada sebuah novel favoritku ketika aku kecil yang berjudul "Rahasia Sepasang Bintang". makanya waktu ngelihat covernya ada perasaan hangat karena nostalgia zaman dulu. Karena aku suka sama covernya, buku ini aku pajang di ruang tengah. 


Novel The Sign ini dibuat oleh seseorang yang aku kenal cukup lama, beliau adalah seorang blogger, writer dan bookstagrammer. Dan yang membuat aku cukup kaget ialah yang aku tahu beliau ini sosok yang romantis, sering menulis cerita-cerita manis lalu tiba-tiba dengan mengejutkan beliau menerbitkan sebuah novel dengan genre science fiction. Aku pikir novelnya akan bergenre romantis, eh ternyata sungguh di luar Nalar. 😁


Tentang isi, novel ini bercerita tentang sebuah perebutan wilayah kekuasaan di planet Gil. beberapa Klan yang awalnya bersahabat harus tiba-tiba saling membunuh dikarenakan keserakahan seseorang, hingga hanya tersisa klan Atticus dan Seanon. klan Atticus adalah klan terbesar yang dipimpin oleh seorang serakah bernama Onyx, dan ternyata si Onyx ini ialah kunci dari segalanya yang terjadi. Ia adalah penyebab munculnya perpecahan dan peperangan antar klan. Onyx menginginkan seluruh wilayah di Planet Gil berada di bawah kekuasaannya. 



Di awal cerita, aku cukup menikmati bagaimana si 
penulis mengenalkan pembaca tentang tempat-tempat, nama benda serta kecanggihan teknologi di Planet Gil, tidak lupa dengan kamus bahasa Planet Gil yang diselipkan tipis-tipis di setiap dialognya. Juga di bab-bab berikutnya lebih menarik saat kita disuguhkan dengan sudut pandang yang berbeda dari setiap bab. Seperti saat Aidan yang menyelinap diantara Padang rumput saat Soren menyerang Seanon, yang sebenarnya diketahui Isla dan diceritakan di Bab selanjutnya. Lalu saat Isla akan pulang ke Soren dan akan terjatuh, kemudian tiba-tiba ditolong Aidan, padahal Anakin melihat mereka dari jauh. Novel ini tetap dibumbui kisah percintaan yang ringan, tidak berlebihan mengingat ini adalah novel sci-fi. 
Di akhir cerita, tentang percintaan sebenarnya sudah bisa ditebak akhirnya Isla menikah dengan Aidan, meskipun sebenarnya aku berharap lebih pada Anakin hehe. Sedikit kecewa karena di akhir justru tidak dijelaskan bagaimana perasaan Anakin melihat Isla menikah dengan sepupunya, Aidan. Bahkan membuat Atticus dan Seanon bersatu. Padahal saat pertama Anakin muncul, udah langsung tergambar bahwa Anakin tertarik pada Isla. Kekecewaan kedua adalah, saat Samena teman Isla dimatikan di awal cerita. Kukira Samena akan menjadi suport system-nya Isla, ternyata cuman numpang lewat doang abis itu mati. Padahal kan kalau Samena tetap hidup, dia bisa jadi pasangannya Anakin *kok ngatur-ngatur sih 😁*. Kekecewaan ketiga adalah saat pertempuran, Onyx cepet banget matinya. Padahal kan diceritakan dia adalah pemimpin yang keji, dia sudah menghanguskan banyak klan dan menjadikan wilayah kekuasaannya, bahkan rencana peperangannya pun sudah direncana kan sangat lama. Lalu saat pertempuran dimulai, udah langsung tewas.

Overall, novel ini keren. Setiap tokoh memiliki porsj yang cukup jika dilihat dari sudut pandang orang ketiga, tidak berlebihan, tidak juga kurang. Meskipun ada beberapa typo tapi tidak terlalu fatal dan masih bisa dinikmati. Novel ini cocok dibaca saat malam sebelum tidur, biar fokus.


Sekian review buku kali ini, sudah jam 3 pagi mari kita tidur.~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permintaan Maaf di Masa Depan

Nak.     Jika belasan tahun atau bahkan puluhan tahun lagi kamu membaca ini, dan kamu sedang marah dan benci padaku, ibumu.            Nak, setiap malam sebelum tidur kamu selalu menatap langit-langit kamar cukup lama, dalam termenungmu kadang kita menceritakan banyak hal. Biasanya bibu akan menanyakan lagi apa saja yang kamu makan, kemana kamu pergi, bermain apa dan dengan siapa. Lalu kamu pun akan menceritakan berulang-ulang hal yang sebenarnya sudah bibu tahu jawabannya karena 24/7 kamu selalu berada di dekat bibu.      Setiap selesai kamu bercerita bibu selalu meminta maaf kepadamu, atas perlakuanku padamu pada hari itu yang kadang di luar kendaliku, maka malam sebelum tidur adalah waktu yang bibu rasa tepat untuk meminta maaf kepadamu. Salah ataupun tidak salah yang bibu lakukan, setiap malam bibu akan selalu meminta maaf kepadamu. Bukan karena bibu ingin merendahkan diri di depan kamu dengan selalu minta maaf, tapi h...

Habil Ngompol!

Kemarin, dua hari berturut-turut Habil terus-terusan ngompol. Bangun tidur, siang, sore terus aja nahan pipis sampe ngompol. Memang bukan tipe ngompol yang jibrug sampe berceceran di lantai, cuman ada beberapa tetes di celana dalam, tapi tetep aja itu bikin jijik, bikin kesel.  Dua hari berturut-turut juga akhirnya Bibu cuci selimut, sprei, jemur kasur, ngepel dan cuci-cuci yang lain sendirian, sampe Bibu ngomel terus peringatin Habil biar gak ngompol. Beberapa menit sekali, ngajak Habil pipis ke kamar mandi, padahal Habil lagi gak mau pipis. Terus-terusan bilang, Habil jangan ngompol lagi ya nanti malam, awas kalau ngompol. Sampe malem harinya, Habil gak bisa tidur, Bibu juga deg-degan takut banget Habil ngompol. Ditanya kenapa Habil gak tidur, dijawab gak apa-apa tapi Habil terus-terusan minta dianter ke kamar mandi buat pipis, sampe di kamar mandi ternyata gak pipis. Begitu terus sampe beberapa kali. Akhirnya Bibu sadar, Habil juga mungkin takut, Habil takut ngompol lagi karena ...

Entah Kali ke Berapa

Lalu bagaimana, jika aku merasa tak mengenali diriku sendiri setelah mengalami perubahan yang selama ini aku ingini?! Lalu bagaimana, setelah aku menginginkan perubahan namun justru aku merindukan diriku yang dulu?! Lalu bagaimana, setelah meng-amini doa-doa yang pernah terpanjat aku justru menyesalinya?! Lalu, bagaimana?!