Langsung ke konten utama

Pada tanggal 19


19 Juni 2014
Terserahlah aku menyebutnya apa
Aku pikir hanya bertambahnya angka pada lilin merah yang menyala di ruang tengah
Lebih dari itu, entahlah artinya apa.
Sedetik kemudian, lalu kita saling meracau
Menyisir segala yang kacau
Bercerita dari putih ke biru menuju ungu
Berkisah tentang pori-porimu dan rambut yang tumbuh di kakimu
Kita terbahak
Menertawai derita yang sama.
Ah, lucu!
Kita begadang semalaman
Menikmati secangkir kopi dan tart yang berantakan
Lalu kau menyalakan lagi di angka dua dan kosong
Api menari-nari mengikuti nyanyian kita;
"Happy birthday to you, happy birthday to you.
Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you."
Sumbang mengambang di udara
Lilin lirih memendek terlahap usia
Sedang api masih menari kesetanan.
Satu persatu kita layangkan harap pada Tuhan.
Semoga Dia melahap segala harap dan lelap.
Hilangkan kesedihan.
Tambahkan kebaikan.
Menutup hari ini dengan sebuah kenangan dan tiupan pada lilin berangka dua dan kosong.
Sinarnya mati,
Menutup usia 19 di tanggal sembilan belas :)
Barokallahu...
Tulis komentar...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permintaan Maaf di Masa Depan

Nak.     Jika belasan tahun atau bahkan puluhan tahun lagi kamu membaca ini, dan kamu sedang marah dan benci padaku, ibumu.            Nak, setiap malam sebelum tidur kamu selalu menatap langit-langit kamar cukup lama, dalam termenungmu kadang kita menceritakan banyak hal. Biasanya bibu akan menanyakan lagi apa saja yang kamu makan, kemana kamu pergi, bermain apa dan dengan siapa. Lalu kamu pun akan menceritakan berulang-ulang hal yang sebenarnya sudah bibu tahu jawabannya karena 24/7 kamu selalu berada di dekat bibu.      Setiap selesai kamu bercerita bibu selalu meminta maaf kepadamu, atas perlakuanku padamu pada hari itu yang kadang di luar kendaliku, maka malam sebelum tidur adalah waktu yang bibu rasa tepat untuk meminta maaf kepadamu. Salah ataupun tidak salah yang bibu lakukan, setiap malam bibu akan selalu meminta maaf kepadamu. Bukan karena bibu ingin merendahkan diri di depan kamu dengan selalu minta maaf, tapi h...

Habil Ngompol!

Kemarin, dua hari berturut-turut Habil terus-terusan ngompol. Bangun tidur, siang, sore terus aja nahan pipis sampe ngompol. Memang bukan tipe ngompol yang jibrug sampe berceceran di lantai, cuman ada beberapa tetes di celana dalam, tapi tetep aja itu bikin jijik, bikin kesel.  Dua hari berturut-turut juga akhirnya Bibu cuci selimut, sprei, jemur kasur, ngepel dan cuci-cuci yang lain sendirian, sampe Bibu ngomel terus peringatin Habil biar gak ngompol. Beberapa menit sekali, ngajak Habil pipis ke kamar mandi, padahal Habil lagi gak mau pipis. Terus-terusan bilang, Habil jangan ngompol lagi ya nanti malam, awas kalau ngompol. Sampe malem harinya, Habil gak bisa tidur, Bibu juga deg-degan takut banget Habil ngompol. Ditanya kenapa Habil gak tidur, dijawab gak apa-apa tapi Habil terus-terusan minta dianter ke kamar mandi buat pipis, sampe di kamar mandi ternyata gak pipis. Begitu terus sampe beberapa kali. Akhirnya Bibu sadar, Habil juga mungkin takut, Habil takut ngompol lagi karena ...

Entah Kali ke Berapa

Lalu bagaimana, jika aku merasa tak mengenali diriku sendiri setelah mengalami perubahan yang selama ini aku ingini?! Lalu bagaimana, setelah aku menginginkan perubahan namun justru aku merindukan diriku yang dulu?! Lalu bagaimana, setelah meng-amini doa-doa yang pernah terpanjat aku justru menyesalinya?! Lalu, bagaimana?!